Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Benarkah Manusia Kembali Fitrah Pasca Ramadhan ?

Benarkah Manusia Kembali Ke Fitrah Pasca Ramadhan
Benarkah Manusia Kembali Ke Fitrah Pasca Ramadhan (Foto : Shopyan Hadi)

Banyak manusia yang beragama Islam merayakan hari raya idul fitri pasca bulan Ramadhan setelah hilal nampak sesuai hitungan ru'yatul hilal atau hitungan hisab. Namun, apakah mereka yang merayakan idul fitri setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan selama 30 hari, mengetahui makna fitrah dengan sebenar-benarnya dan menyerap makna tersebut dalam kehidupannya. 

Sebelum membahas makna fitrah, alangkah baiknya, kita merefleksikan diri sejenak ibadah kita di bulan suci Ramadhan. Oleh karena itu, bacalah hal berikut ini dengan fokus dan khusyuk.

Ramadhan: Pemuas Nafsu atau Penambah Amal Kebajikan

Dalam kitab suci Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 183, dikatakan tujuan orang yang berpuasa untuk membentuk karakter takwa. Takwa berarti menjalani perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Meski begitu, banyak orang yang berbuka puasa dengan aneka macam makanan dan minuman, hal itu boleh saja dilakukan asal tidak mengurangi rasa syukur dan tidak boleh juga terlalu berlebihan, apalagi beralasan momen buka bersama sampai meninggalkan ibadah shalat wajib.

Selain itu, pada saat menjalani ibadah puasa selama Ramadhan, sering kali anggota tubuh kita melakukan dosa demi dosa, akan tetapi, hal itu kita tidak sadari selama berpuasa penuh. Malahan, tanpa kita sadari, maksiat yang kita lakukan menjadi penghilang pahala ibadah puasa.

Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan bulan untuk menambah amal kebaikan lewat tindakan-tindakan yang berhubungan dengan nilai-nilai spiritual atau nilai-nilai yang berhubungan dengan agama.

Fitrah: Berarti Semua Serba Baru

Di Indonesia, hampir setiap muslim pada malam hari raya takbiran, mereka berbelanja barang serba baru, mulai dari baju, celana dan lain sebagainya. Bahkan, sebagian dari mereka menganggap itu sebagai sebuah tradisi yang wajib dipenuhi sebelum hari raya lebaran tanggal 1 Syawwal. 

Para orang tua berbondong-bondong menyiapkan dan mengumpulkan uang yang mereka miliki demi menyambut hari raya idul fitri dengan membeli barang-barang tersebut. Dengan begitu mereka luput dari makna serta esensi fitrah yang sebenarnya. 

Menyambung hal di atas, membeli pakaian serba baru memang tidak dilarang, namun, jika sampai harus melakukannya (seakan-akan) hal itu wajib dilaksanakan, tentu hal ini sangat keliru.

Fitrah: Mengharap THR dan Berbagi THR di Hari Raya Idul Fitri

Hari raya lebaran tentunya diharap-harapkan oleh semua orang. Namun, ada yang unik di Indonesia, para anak-anak berharap tunjangan hari raya (THR) dari orang-orang dewasa, mereka sering kali datang berkelompok atau pun individu dan mengharapkan mendapatkan THR di momen hari raya tersebut.

Berbeda dengan orang yang dewasa, mereka tentunya sudah menukar uang-uang mereka untuk berbagi secara khusus kepada para ponakan atau saudara atau pun kepada anak-anak kecil lainnya. Tidak heran, sebagian dari mereka kerap kali kepuyengan setiap menemui hari raya idul fitri. Bukannya hari raya menggembirakan namun, hari raya yang merugikannya.

Makna Fitrah yang Sebenarnya

Salah satu tokoh filsafat Yunani, Aristoteles mengemukakan bahwasanya makna fitrah ialah keadaan suci tanpa dosa atau keadaan seseorang yang baik (perilakunya) serta bisa pembersihan diri dari potensi jahat atau salah. Itulah salah satu dari sekian banyaknya makna fitrah.

Dari pengertian yang dijelaskan oleh Aristoteles, kita bisa menyimpulkan bahwasanya makna fitrah itu membersihkan diri dari segala kekotoran dosa dengan menggantinya dengan ucapan-ucapan atau perbuatan-perbuatan yang baik. Setelah Ramadhan, Mari kita sama-sama memperbaiki diri.

Kesimpulan

Dengan demikian, esensi dari fitrah di hari raya idul fitri bukan hanya sekedar bertemu sanak saudara, keluarga dan teman, melainkan juga totalitas untuk merubah diri dari segala bentuk dan tindakan yang berpotensi mengotori hati. Hati yang bersih akan mengeluarkan perilaku-perilaku yang bersih, sementara hati yang kotor akan mengeluarkan tindakan-tindakan yang menyimpang dari kebenaran.

Penulis : Shopyan Hadi

Posting Komentar untuk "Benarkah Manusia Kembali Fitrah Pasca Ramadhan ?"